Perang Puputan Bali, Tak Gentar Lawan Musuh

Pendidikan —Selasa, 18 Jan 2022 13:12
    Bagikan  
Perang Puputan Bali, Tak Gentar Lawan Musuh
Kolonel I Gusti Ngurah Rai

POSTPANGANDARAN,-  Kisah tentang Kolonel I Gusti Ngurah Rai memang sudah banyak ditulis dalam buku sejarah di Indonesia. Salah satu pahlwan kemerdekaan itu gugur dalam Perang Margarana pada tahun 1946. Gusti Ngurah Rai dengan prajuritnya memilih melawan Belanda sampai titik darah penghabisan daripada harus menyerah.  Peristiwa Perang Margarana ini berlangsung pada tanggal 20 November 1946 di Banjar Kelaci, Kecaatan Marfa, Tabanan, Bali.

Dalam sebuah buku diceritakan bahwa setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, I Gusti Ngurah Rai menerima tugas untuk membentuk Tentara Keamanan Rakyat atau TKR di daerahnya.  Tugas ini dimaksudkan untuk meghadang agresi Belanda yang kembali ingin menguasai Bali setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II.

I Gusti Ngurah Rai kemudian membentuk pasukan sunda kecil yang diberi nama Ciung Wanara. Ketika membentuk pasukan tersebut, ia kemudian melakukan konsultasi dengan Markas Besar TKR di Yogyakarta yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu. Tapi, setelah kembali dari Yogya, Belanda ternyata sudah mendarat di Bali.  Pasukan Ciung Wanara yang dibentuknya sudah menjadi pasukan-pasukan kecil. Ia lalu mengumpulkan pasukanya itu.

Baca juga: Jokowi: Jabar Capai Target Vaksinasi 83 Persen

Pada awalnya, Belanda mengajak Ngurah Rai untuk bekerja sama untuk pendudukan tersebut. Hal itu tertulis dalam surat Kapten J.M.T Kunie yang ditujukan kepada Ngurah Rai yang isinya adalah mengajak berunding. Bukannya diterima, ajakan kerja sama itu justru ditolak Ngurah Rai.

Singkatnya, karena mendapat penolakan, Belanda menambah bantuan pasukan dari Lombok yang bertujuan menyergap pasukan Ngurah Rai di Tabanan. I Gusti Ngurah Rai yang mengetahui pergerakan Belanda pun langsung memindahkan pasukannya ke Desa Marga. Mereka akhirnya menyusuri ujung timur Pulau Bali dan melintasi Gunung Agung.

Pasukan Belanda yang sudah mengendus pergerakan itu akhirnya mengejar mereka. Tepat pada 20 November 1946, di Desa Marga, Pasukan Ngurah Rai dan pasukan Belanda bertemu dan terjadinya pertemouran yang sangat sengit. Dalam pertempuran itu, Pasukan Ciung Wanara berhasil membuat pasukan Belanda mundur.

Tidak berhenti sampai disitu, pasukan Belanda akhirnya mendatangkan bantuan dalam jumlah besar dilengkapi senjata yang lebih modern juga didukung pesawat tempur. Kondisi akhirnya berbalik, Pasukan Ngurah Rai semakin terdesak karena kekuatannya tidak seimbang saat itu.

Baca juga: Kisah Penyalin Cahaya dalam “Photocopier”

Beranjak malam, pertempuran antara Ngurah Rai dan pasukan Belanda tidak kunjung berhenti. Pasukan Belanda juga semakin brutal menggempur pasukan Ciung Wanara menggunakan meriam dan bom dari pesawat tempur.

Akhirnya, pasukan Ciung Wanara terdesak ke wilayah terbuka di area pesawahan dan ladang jagung di Kelaci, Desa Marga. Dalam kondisi terdesak, I Gusti Ngurah Rai mengeluarkan perintah puputan yang artinya adalah pertempuran habis-habisan. Dalam pandangan pejuang Bali, mereka lebih baik berjuang sebagai ksatria daripada menyerah dan jatuh ke tangan musuh.

Pada malam itu, 20 November 1946, I Gusti Ngurah Rai gugur bersama dengan pasukannya. Peristiwa ini kemudian dicatat dan disebut sebagai Peristiwa Puputan Margarana. Puputan Margaran adalah sebuah sejarah penting perjuangan bangsa Indonesia.

Gugurnya pasukan Ciung Wanara membuka jalan bagi Belanda untuk membentuk Negara Indonesia Timur atau NIT. Tapi, usaha itu gagal setelah Indonesia kembali menjadi negara kesatuan pada tahun 1950.* - zz

Baca juga: Kota Bandung, Terbaik dari 100 Smart City Indonesia


Editor: Seni
								
    Bagikan  

Berita Terkait