Tarawangsa, Kesenian Sunda Buhun yang Dilakukan Sebagai Ungkapan Syukur

Pendidikan —Minggu, 9 May 2021 10:11
    Bagikan  
Tarawangsa, Kesenian Sunda Buhun yang Dilakukan Sebagai Ungkapan Syukur
Tarawangsa merupakan instrumen gesek yang berdawai dua yang terbuat dari kayu atau disebut Rebab. Dalam penyajiannya tarawangsa selalu diiringi dengan sebuah kacapi. (Foto: kemdikbud.go.id)

PANGANDARAN, DEPOSTPANGANDARAN

Secara administratif Rancakalong adalah sebuah kecamatan yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Sumedang. Kecamatan Rancakalong terdiri dari beberapa desa di antaranya: Desa Rancakalong, Nagarawangi, Pasir Biru, Pamekaran, dan Cibunar.

Udara di daerah Rancakalong masih terasa segar karena daerah ini memiliki keadaan alam yang dikelilingi oleh Pegunungan. Sebagian Wilayah Rancakalong didominasi oleh pesawahan yang luas. Setiap pagi udara di Rancakalong begitu dingin, terutama airnya. Desa-desa itulah yang dianggap sebagai pusat kebudayaan dan seni di Rancakalong karena memiliki rurukan-rurukan atau kelompok-kelompok seni Tarawangsa.

Baca juga: Terungkap, Ini Alasannya Kenapa Minggu Ditetapkan Sebagai Hari Libur

Tarawangsa merupakan instrumen gesek yang berdawai dua yang terbuat dari kayu atau disebut Rebab. Dalam penyajiannya tarawangsa selalu diiringi dengan sebuah kacapi, kacapi adalah instumen yang berdawai tujuh yang digunakan sebagai pengiring, Tarawangsa di Rancakalong lazim disebut Jentreng.

Awal mulanya Tarawangsa di Rancakalong hanya digunakan untuk acara syukuran Panen atau di Rancakalong disebut Rubuh Jarami Entep Pare. Sebagaimana telah dikatakan, masyarakat Sunda dengan latar belakang kehidupannya sebagai petani, kesenian ini diciptakan dan digunakan untuk melengkapi upacara yang berkaitan dengan kegiatan pertanian.

Baca juga: TP PKK, Dharma Wanita dan Kwarran Kecamatan Kalipucang Bagikan Nasi Box dan Takjil

Dalam setiap upacara, tarawangsa menyandang peran vital sebagai pengiring upacara ritual untuk medatangkan Dewi Sri atau disebut juga Nyi Pohaci serta arwah-arwah leluhur (karuhun), karena masyarakat Rancakalong telah dianugrahi panen padi yang melimpah.

Pada setiap ritual, banyak sesaji yang dipersembahkan untuk Dewi Sri atau Nyi Pohaci. Di daerah Rancakalong, apabila hendak dimainkan. Instrument Tarawangsa harus diasapi dengan asap yang mengepul dari kemenyan di kukus atau parukuyan (tempat pembakaran kemenyan).

Baca juga: Ini Dia Alasan Liburan Tanpa Gadget Ternyata Lebih Asik, Coba Aja!

Adapun beberapa peran yang harus ada dalam penyajian Tarawangsa, diantaranya yaitu nu boga hajat (yang mempunyai maksud), Saehu (sesepuh laki-laki yang memimpin acara), Peribuan (tujuh orang ibu-ibu yang mendampingi saehu), Panabeuh (2 orang yang ahli memainkan Tarawangsa).

Tarawangsa sendiri 3 susunan pokok acara yang wajib ada yaitu Ngalungsurkeun atau disebut proses memulai acara dengan 7 orang peribuan yang menurunkan pangkonan (berbagai macam alat make up dan gabah) dan ngalungsurkeun ini dimulai dari jam 21.00 wib sampai dengan jam 00.00 wib.

Baca juga: Mengenal Bipang Ambawang, Makanan yang Dipromosikan Jokowi Hingga Menuai Kontroversi

Kemudian dilanjutkan dengan acara selanjutnya yaitu Nyumpingkeun atau disebut proses menjemput Dewi Sri atau Nyi Pohaci disini 7 orang peribuan membentuk formasi lingkaran dengan di dalam lingkaran tersebut ada satu orang ibu-ibu biasanya yang mempunyai maksud dan dimulai dari 02.30 wib sampai dengan jam 03.00 langsung di lanjutkan ke acara terakhir yaitu Nginebkeun atau disebut proses dimana pangkonan yang di acara sebelumnya yaitu ngalungsurkeun di kebalikan ke tempat semula.

Untuk lagu yang terdapat dalam Tarawangsa sendiri terdiri dari kurang lebih 42 lagu diantaranya adalah Saur, Pangepung, Limbangan, Pamapag, Jemplang, Ayun Ambing, Panimbang, Engket-engket, Mataraman, Jemplang Panimbang, Degung, Karatonan, Guar Bumi, Pagelaran dll. Dan 7 lagu utama yang dimainkan tanpa henti di awal acara adalah Saur, Pangepung, Pamapag, Mataraman, Engket-engket, Ayun Ambing, dan Jemplang.

Baca juga: Bulan Puasa Malah Mesum, 24 Orang di Karapyak Pangandaran Diamankan

Kemudian juga ada beberapa peralatan yang wajib ada dalam Tarawangsa ini yaitu Satu Set Alat Tarawangsa yaitu Kacapi dan Rebab dengan ketentuan Kacapi tingginya 1 m dan Lebarnya 17 cm, begitupun rebab ukurannya sama dan dua alat tersebut terbuat dari kayu Jengkol.

Kemudian Kukus/Parukuyan, Pakaian Sesepuh Laki-laki yaitu Totopong dan Pangsi, Pakaian Peribuan yaitu Kebaya, Samping, dan Sanggul, Keris, Selendang 5 warna, 2 buah Gelang Kuningan dan 2 buah koin, 1 pasang Topeng yang di pasangkan dengan 2 geugeus Padi Ranggeuyan dan di bentuk menjadi Dewi Sri dan Dewa Wisnu (Nu geulis dan Nu kasep), serta yang terakhir adalah Hasil bumi atau sesaji biasanya sesaji di Rancakalong sangat Kumplit yaitu rurujakan (rujak nanas, rujak kelapa, rujak roti, rujak bunga ros dan sebagainya), selain rurujakan sesaji yang lain adalah bubur merah (bubur yang dicampur dengan gula merah), bubur putih (bubur yang polos hanya menggunakan garam), duwegan (kelapa yang masih muda), seupaheun (daun sirih, kapol, gambir, bah pinang, dan cengkeh), rokok, bako tampan, cerutu.

Baca juga: Ramalan zodiak Virgo Hari Ini Minggu 9 Mei 2021, Tenangkan Pikiran

Selain itu, ada pula bakakak( seekor ayam utuh yang di bakar, dan dalemanya di pepes), puncak manik (nasi yang dibungkus daun pisang di atasnya di letakkan sebutir telur rebus), kopi pahit dan manis, teh manis dan pahit, air putih, berbagai buah-buahan, dan berbagai makanan ringan yang terbuat dari beras atau ketan, seperti Kupat (beras yang di bungkus daun kelapa lalu di kukus), leupeut (semacam lontong), tangtangagin (semacam lontong yang dibentuk segitiga), papais tipung merah dan putih ( sama beras di bungkus daun pisang namun memakai gula dan tidak), gulampok (tape ketan di bungkus daun jambu), wajit, opak, ranginang, kelepon, kolontong, angling, dan lain-lain.

Baca juga: Tarawangsa, Kesenian Sunda Buhun yang Dilakukan Sebagai Ungkapan Syukur

Tidak hanya untuk ritual syukuran panen, di Rancakalong terdapat dua acara lainnya yang diiringi oleh Tarwangsa yaitu Bubur Suro dan Ngalaksa yang fungsinya sama yaitu untuk ungkapan rasa syukur terhadap Dewi Sri, acara ini ada kurun waktu pelaksanananya. Untuk bubur suro sendiri diadakan setiap setaun sekali awal bulan Juli di setiap daerah di Rancakalong sedangkan Ngalaksa diadakan 3.5 tahun sekali dan hanya di laksanakan di daerah Sukabirus Cibunar Rancakalong. (EK)

Editor: Putri
    Bagikan  

Berita Terkait