Karinding Priangan, Getaran Bunyi yang Memikat Hati

Hiburan —Jumat, 7 May 2021 11:39
    Bagikan  
Karinding Priangan, Getaran Bunyi yang Memikat Hati
Dalam bahasa Sunda, penyebutan karinding juga merujuk pada kakarindingan, sejenis serangga bersuara nyaring yang hidup di air sawah. (Foto: Pinterest)

DEPOSTPANGANDARAN

Bagi Sebagian orang saat ini khususnya orang Sunda, Karinding tentu asing bagi mereka. Pasalnya saat ini jarang kita temui orang yang masih memainkan alat musik ini. Alat musik tradisional Sunda satu ini terbilang unik. Bentuknya yang sederhana, terbuat dari pelepah pohon enau kering atau sebilah bambu berukuran 10 cm x 2 cm.

Getar nada yang memikat sangat bergantung pada kemampuan si pemainnya dalam mengolah rasa. Pada zaman dulu, getar nada karinding digunakan sebagai pemikat hati. Kepekaan rasa memang diperlukan ketika memainkan instrumen ini.

Baca juga: Kenapa Ketiak Berbau Busuk?Ini penjelasannya

Karinding tidak memiliki nada-nada yang permanen. Tinggi rendah nada ditentukan oleh kemampuan mengolah gema getaran suara di dalam rongga mulut. Instrumen ini terdiri atas tiga ruas. Efek getaran muncul dari ruas bagian tengah yang dipotong.

Dan untuk menghasilkan bunyi pada instrumen ini, karinding didekatkan ke mulut, lalu dipukul salah satu ujungnya dengan jari tangan. Pukulan jari pada bilah lentur akan menghasilkan vibrasi suara. Vibrasi ini akan tertampung di dalam rongga mulut yang berfungsi semacam resonator atau wadah gema.

Baca juga: Simak, Kendaraan dan Daerah yang Tetap Boleh Peroperasi Saat Larangan mudik lebaran tahun 2021, Berikut Ini!

Bentukan rongga mulut akan mengatur vibrasi menjadi nada yang diinginkan. Nada ini bisa dibuat lebih nyaring dengan bantuan tabung suara dari bambu. Ada dua macam karinding, yakni karinding lanang dan karinding wadon. Karinding lanang yang terbuat dari pelepah pohon "kawung" (enau) bersuara lebih nyaring.

Karinding ini biasa dimainkan laki-laki. Karinding wadon terbuat dari sebilah bambu dan menghasilkan suara sebaliknya. Selain sebagai instrumen musik, karinding ini juga biasa dipakai sebagai tusuk konde. Suara serangga Karinding sudah dikenal dalam kehidupan masyarakat di Tatar Sunda sejak abad ke-15.

Baca juga: Catatan Sejarah 7 Mei: Perjanjian Roem-Royen, Menuntut Kembalinya Kedaulatan Indonesia

Dalam bahasa Sunda, penyebutan karinding juga merujuk pada kakarindingan, sejenis serangga bersuara nyaring yang hidup di air sawah. Getaran suara yang dihasilkan instrumen karinding diimajinasikan mirip dengan suara serangga ini.

Namun, perubahan iklim dan lingkungan membuat serangga ini punah. Pada zaman dahulu karinding tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda. Instrumen ini selalu dibawa ke mana pun dan dimainkan untuk mengusir rasa bosan ketika di ladang.

Baca juga: Ramalan Zodiak Besok Sabtu 8 Mei 2021, Gemini Perbaiki Komunikasi, Sagitarius Jangan Memaksakan

Selain sebagai hiburan, resonansi suara karinding juga dimanfaatkan sebagai pengusir hama. Seni karinding juga dimaknai sebagai sarana komunikasi. Alat musik ini biasa dimainkan jajaka demi menaklukkan hati gadis pujaannya.

Suara yang dihasilkan oleh karinding ini menjadi daya tarik khas, tidak akan sama pada masing-masing jajaka karena tergantung pada struktur rongga mulut seseorang. Saat ini seni karinding hanya dapat dijumpai di sejumlah daerah di Priangan, antara lain di Kecamatan Cineam, Kabupaten Tasikmalaya.

Baca juga: Ini Dia Jenis Lobster Mahal yang Hidup di Perairan Indonesia

Sejumlah seniman tradisi di wilayah itu masih setia mempertahankan seni karinding, antara lain Oyon Noraharjo dan Yoyo Yogasmana. Upaya memopulerkan karinding di kalangan anak muda juga dilakukan kelompok Karinding Attack. Kelompok ini memadukan bunyi getar karinding dengan musik elektrik untuk mendapatkan kesan modern. (EK)

Editor: Putri
    Bagikan  

Berita Terkait